Mimpi seorang tukang tambal ban…
Aug 14th, 2008 | By novianto | Category: FamilyAku dibesarkan di sebuah desa terpencil bernama Gambarsari. Tepatnya 17 kilometer selatan kota Purwokerto. Masih ingat betul dalam ingatanku ketika matahari mulai terbenam Bapak sibuk membersihkan dan menyalakan petromaks (sejenis alat penerangan dari minyak tanah). Sementara Ibu berusaha memasukkan ayam-ayam ke dalam kandang, menghitungnya, dan segera mengikat pintu kandang. Sedih rasanya bila malam telah datang, sunyi, senyap, gelap, dan sesekali terdengar suara desing nyamuk berterbangan. Terdengar suara berita dari radio transistor tetangga yang dinyalakan dengan batu batre merk ABC setelah dijemur seharian. Aku hanya termenung duduk berkerodong kain sarung di ruang tamu di bawah temaram cahaya petromaks. Ibu menghampiri dan menyuapkan nasi ke dalam mulutku, walaupun aku sudah berusia 5 tahun tetapi Ibu masih melakukan hal ini. Tiba-tiba suara Kakek memanggilku dan mengajak nonton TV di Balaidesa. Betapa bahagianya aku, dengan berbekal tikar anyaman daun pandan aku bergegas pergi bersama Kakek ke Balaidesa. Aku gelar tikar di atas batuan kerikil halaman Balaidesa. Aku melihat TV hitam putih 14″ (yang dinyalakan dengan accu) dari jarak 20m, karena tempat di depan sudah banyak orang.
Kehidupan keluarga aku sangat sederhana. Bapak adalah seorang CPNS di DPU, sementara Ibu juga CPNS di P dan K. Terkadang aku harus merelakan keinginanku untuk membeli sesuatu, karena penghasilan dari kedua orang tua aku digunakan untuk membiayai sekolah adik dari Ibu yang berjumlah 7 (tujuh) orang. Ketika aku berusia 6 tahun, aku disekolahkan di sebuah Sekolah Dasar Negeri Impres Gambarsari di desaku. Tiap hari berbekal buku tulis bersampul kertas buram berwarna coklat aku pergi ke sekolah walaupun tanpa sepatu. Sejak kelas V SD aku mulai berjualan kacang bawang di sekolah atau menitipkannya di koperasi sekolah. Aku sebenarnya malu melakukan hal ini, tapi dengan cara ini aku bisa membeli buku dan pensil. Namun sayang sekolah tempatku menimba ilmu kini telah ditenggelamkan oleh pembangunan Bendung Gerak Serayu di jaman pemerintahan Bapak Soeharto.
Setelah aku tamat dari SD, kemudian melanjutkan ke SMP N Sampang yang berjarak 5 (lima) kilometer dari rumahku. Tiap hari dengan menaiki sepeda bekas aku berangkat ke sekolah melalui area persawahan yang sangat luas dan sepi. Aku tak pernah membayangkan ketika aku berangkat sekolah sering menjumpai kerumunan orang karena ada mayat yang tergeletak di pinggir jalan. Waktu itu orang selalu bilang “Petrus”. Sampai sekarang aku juga tidak tau apa sebenarnya “Petrus” itu. Sepulang dari sekolah aku harus membantu Bapak dengan menjadi tukang tambal ban sepeda motor. Tidak jarang satu-satunya adik perempuanku sering diolok-olok oleh temannya sebagai anak tukang tambal ban.
Ketika lulus SMP aku berusaha sekuat tenaga untuk mengikuti tes masuk ke SMA Taruna Nusantara Magelang. Kedua orang tua, Kakek dari Bapak, dan Nenek dari Ibu, hampir tiap tengah malam melakukan shalat sunat mendoakan aku agar bisa diterima di sekolah Calon Pemimpin Bangsa. Alhamdulillah, Allah SWT mendengar doa hamba-Nya dan aku dinyatakan lulus ujian masuk SMA TN. Semenjak itu aku tinggal di asrama sekolah di Magelang. Aku jarang sekali ditengok kedua orang tua, dan aku pulang ke rumah 2 (dua) kali dalam setahun. Hati ini rasanya hancur ketika di siang hari aku membaca surat dari Ibu, bahwa rumah kami satu-satunya di kampung terpaksa harus dijual. Kedua orang tua aku mempunyai beban hutang yang sangat besar jumlahnya saat itu. Sehingga mereka terpaksa tinggal di Perumahan Dinas yang dihuni oleh 2 (dua) keluarga dalam satu rumah.
Setelah tamat dari SMA aku bertekad kuliah walaupun kedua orang tua aku tidak sanggup membiayai. Dengan semangat dan doa aku diterima di Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN) Jakarta. Sebuah perguruan tinggi kedinasan di bawah Departemen Keuangan dan tidak dipungut biaya apapun selama kuliah. Aku ingat betul kedua orang tua aku hanya sanggup kirim uang sebesar Rp. 80.000,- per bulan. Dari jumlah itu harus aku sisihkan untuk bayar kost sebesar Rp. 40.000,- dan sisanya buat makan dan lain-lain selama sebulan. Aku mengerti uang tersebut adalah jerih payah kedua orang tuaku yang kadang kala harus mengumpulkan dari saudara-saudara di kampung atau meminjam ke tetangga. Disela-sela pekerjaan kantor aku melanjutkan kuliah di Perbanas Jakarta jurusan akuntansi. Walapun relatif lama akhirnya aku berhasil menamatkan pendidikan S1 sebagai Sarjana Ekonomi. Aku bangga karena di kampung aku jarang sekali ada sarjana. Mungkin inilah salah satu cara menunjukkan baktiku kepada orang tua. Semua pengorbanan kedua orang tua tidak bisa dinilai dengan materi. Aku hanya ingin melihat kedua orang tuaku selalu tersenyum dan bahagia di hari tuanya. Semoga aku bisa menjadi anak yang diharapkan oleh mereka.
Saat ini aku telah berkeluarga dan mempunyai 2 (dua) orang anak laki-laki yaitu Galan Adhyasta dan Genta Panggraita. Aktivitas sehari-hari disamping sebagai Tax & Financial Consultant, aku mengisi hari liburku dengan kegiatan tambahan di bidang rental sound system (solo organ & chamber), advertising (indoor and outdoor solutions), dan menjadi Direct Sales Agency salah satu bank internasional. Semoga dengan cara ini aku bisa membuka lapangan kerja dan bermanfaat bagi orang lain.
PERTAMAX
………. hari ini IDR. 9.850,-
Hmmm ranking-e koq kosong, blm terdaftar di directory search engine?
Novi, MANSTAPP!
Wah gua seneng banget akhirnya wong Kebasen bisa mbuka warung blog dhewek. Sukses selalu ya Vi, jangan lupa tukang tambal ban.
hicks… Nov.. bravo buat semangat kamu untuk tetep maju yah…
Mas Apri,
Makasih sudah mampir, maklum masih pemula.
Mas DZ,
Matur nuwun sudah berkenan mampir.
Saya tunggu kritik dan sarannya Mas.
Mba Nitnot,
Makasih comment nya.
Mantap sekali. Sebuah cerita yang sangat isnpiratif.
nggak nyangka dibalik sukes seorang novi, ada kisah perjuangan orang tua yang mengharubiru. Bravo ….
Amazing……
Salut buat Novi….I know understand you more…
Keep on fighting..
Regards
Ning
Pasti orangtua Novi bangga dengan apa yang Novi capai sekarang
Salam dari suamiku Sri Nugroho TN1
hebat euy perjalanan hidup novi…………..
ayo…terakhir..terakhir….pekanbaru…baru….!!!!
Salam kenal, Mas Novi.
Sayang pas Donor Darah bulan lalu aku ga bisa ikutan jadi blm sempet ketemu nih.. semoga next even bisa ketemu
salam kenal mas..
ternyata orang purwokerto ya mas, aku banjarnegara??
ceritanya inspiratif sekali mas, semoga tetap sukses dengan usaha sampingannya itu..
Mantap Nov … salut buat perjuanganmu !
Mudah2an tulisan ini bisa selalu menjadi pemicu dirimu untuk sukses selalu !!!!
aduhhh capekkk dehhhh…..
kirain dah bener gw nyampe ditambal ban, motor gw bannya kena paku neh…:(
hhihiihii,, lam kenal ya novvvv
mas mau nambal ban masih buka?
hiks….
..we can learn from the past, but those days are gone
we can hope for the future, but there might not be the one…
carpe diem, seize this day…
oalah kang…dalan uripmu seru tenan…(secara, aku mengenalmu sekarang sebagai doan yuan…wakakak)