Antara Tanah Abang dan Tenjo.

Sep 5th, 2008 | By novianto | Category: Voice of Me

Beberapa langkah saya keluar dari lobby kantor, kulihat jarum jam di tangan kiri ku menunjukkan angka setengah sembilan malam. Sesaat kemudian tiba-tiba Abang tukang ojek dengan motornya menghampiriku dan bertanya “Stasiun, Pak?”. Dengan cekatan dia segera mempersilahkan saya membonceng motornya sambil dia turunkan pijakan kaki di motor dengan kedua tumitnya. Saya pun segera membonceng ojek tadi berjalan pelan meninggalkan halaman kantor. Sesampainya di pagar depan kantor seorang wanita muda tersenyum dan melambaikan tangan ke arahku. Di tangan kirinya terselip sebatang rokok yang menyala. Kejadian seperti ini adalah hal yang biasa ketika aku terpaksa kerja lembur hingga pulang agak malam. Dia tidak sendirian, tetapi mereka lebih dari seratus orang di sepanjang perjalanan dari kantorku ke setasiun Tanah Abang. Suasana hingar bingar dipinggiran jalan, disertai dentuman musik dangdut adalah pemandangan biasa di atas jam delapan malam di wilayah ini. Sebagian mereka laki-laki dan perempuan berjoged sambil menikmati minuman dalam sebuah botol yang dibungkus tas plastik warna hitam. Mereka bersuka ria penuh canda dan tawa, seolah tak ada beban apapun yang menghimpit persoalan hidup mereka. Mereka juga seolah tak peduli kalo malam itu adalah malam ke tiga di bulan Ramadhan.

Sampai di stasiun segera ku keluarkan lembaran uang lima ribu rupiah untuk bayar ojek. Aku sedikit berlari menaiki tangga menuju loket penjualan tiket di stasiun, karena takut ketinggalan kereta. Tiket yang aku beli adalah kereta kelas tiga / ekonomi, jurusan Tanah Abang ke Tenjo seharga empat ribu rupiah. Entah di mana letak daerah Tenjo itu, yang jelas kereta ini akan berhenti di Stasiun Pondok Ranji tempat aku turun. Segera aku menuju ke jalur lima dan kereta sudah menunggu. Sebelum aku naik selalu aku bertanya ke salah satu penumpang yang ada di dalam, “Pak, jurusan Serpong ya?” Bapak itupun menganggukkan kepala. Dalam cahaya lampu yang temaram aku berjalan di lorong gerbong mencari tempat duduk yang masih ada. Baru saja saya duduk, dari ujung gerbong terdengar alunan instrument lagu yang dimainkan oleh tiga orang pengamen setengah baya. Mereka dengan piawai memainkan alat musiknya masing – masing yaitu gitar, biola, dan bass. Tak ketinggalan para pedagang asongan berlomba-lomba menawarkan barang dagangan mereka dengan caranya masing-masing. Sangat beragam barang dagangan yang dijajakan, mulai dari tahu sumedang, aksesoris penjepit rambut, sarung handphone, minuman kaleng, buah-buahan, rokok, permen, buku-buku, alat tulis, koran, hiasan dinding, mainan anak-anak, dan masih banyak lagi. Dengan wajah memelas beberapa anak kecil berjalan jongkok membersihkan lantai gerbong dan di bawah tempat duduk kereta, sambil sesekali menadahkan tangannya meminta uang untuk makan. Seorang anak perempuan berusia sekitar empat tahun berjalan beriringan depan dan belakang dengan Bapaknya yang tuna netra menyanyikan karaoke lagu dangdut, sambil menyodorkan karton bekas teh kotak ke setiap penumpang kereta. Di belakangnya tampak anak bayi yang tertidur lelap dalam gendongan ibunya yang berjalan sambil menengadahkan tangannya meminta belas kasihan.

Tiba-tiba seorang nenek duduk di sampingku. Dia kelihatan tua sekali, mengenakan baju kebaya berwarna putih yang sudah lusuh , kain batik yang sudah mulai memudar, berkerudung warna coklat, dan bersendal jepit. Dengan penasaran aku bertanya, ” Mau kemana, Mak?” Dia menjawab dengan ramah dan sedikit parau, ” Mau ke Tenjo, Nak.” Aku pun hanya mengangguk, beberapa saat lewat seorang pedagang kue. Dengan sedikit ragu aku tawarkan kepada Nenek itu, “Mak, mau kue?” Tetapi dia menggelengkan kepala sambil berucap, “Terima kasih, Nak.” Kereta pun mulai bergerak meninggalkan stasiun, dan aku pun menyudahi pembicaraan dengan Nenek tadi karena suara di gerbong sangat berisik. Seorang pedagang rokok dihentikan oleh Nenek dan sambil mengeluarkan uang ribuan untuk membeli permen. Belum begitu lama, Nenek tadi kembali menghentikan pedagang asongan dan kali ini dia membeli segelas aqua dan langsung diminumnya. Belum habis dia minum, seorang pedagang buah dihentikan lagi dan setelah tawar menawar dia membeli buah mangga seharga sepuluh ribu rupiah. Kereta berhenti di stasiun Palmerah, seorang pedagang buku-buku bahasa inggris dan terjemahannya sambil berjalan menaruh contoh-contoh bukunya di pangkuan para penumpang. Rupanya Nenek disampingku oleh pedagang buku dilewatinya. Dengan sedikit berteriak Nenek tadi memanggil pedagang buku, “Jang, ada kamus bahasa inggris?” Memang aku lihat pedagang itu membawa satu buah kamus yang begitu tebal. Dengan jawaban sekenanya pedagang tadi bilang, “Mahal, Mak.” Rupanya Nenek tadi terus menanyakan harganya, “Berapa?” Pedagang tadi hanya tersenyum sambil berlalu. Kereta pun mulai bergerak meninggalkan stasiun Palmerah, dengan rasa ingin tau nenek tadi bertanya kepadaku, “Nak, tadi kamus bahasa inggris atau bukan, sih?” Karena aku tadi melihat sampulnya kujawab, “Iya, betul Mak.” Rupanya Nenek tadi ingin sekali membelikan buat cucunya yang duduk di kelas dua SMA. Pedagang tadi melintas di depan aku, Nenek pun kembali bertanya, “Berapa Jang, harga kamusnya?” Akhirnya pedagang tadi menjawab sambil berlalu, “Tiga puluh lima ribu, Mak.” Nenek pun kembali menyahut, “Dua puluh ribu yah?” Pedagang tadi pun menoleh, “Udahlah Mak, dua puluh lima ribu nih.” Dengan wajah yang berbinar Nenek tadi mengeluarkan uang sejumlah tersebut dari dalam dompetnya. Belum sempat aku mengungkapkan rasa kagumku sama Nenek tadi, kereta sudah sampai di stasiun Pondok Ranji, dan aku pun segera turun.

Kupanasi sepeda motorku sambil aku mengenakan jaket dan helm. Sepanjang perjalananku dari stasiun ke rumah tak habis pikir begitu banyak kenyataan hidup yang aku lihat di Jakarta ini hanya dalam tiga puluh menit.

7 comments
Leave a comment »

  1. wow.
    direktur di beberapa perusahaan dan masih mau naik kereta ekonomi. ckckck…
    salut lagi nov..
    btw, mana photo si cewek sedang merokok nya?
    tanpa photo ada hoax :mrgreen:

  2. Mas Nindityo, terkadang tidak semua bukti harus dimuat di sini, nanti dibilang tidak mendidik dan belum lagi bisa dituntut sama yang bersangkutan,… he… he…

  3. tulisannya mengalir bagus sekali…

  4. emang siap yang ke tenjo….ngapain aje????

    kan dah jadi direktur…..

    kenapa ke tenjo???

  5. direkturrrr kondekturrrrr sepuuurrrrrrrrrrr

  6. mas Novi, ada bakat jadi penulis juga yah….TOP dech

  7. tenjo, sebelahmana grand wijaya ya nov ???

Leave Comment